Kantor Bupati Belu

ATAMBUA  adalah ibukota Kabupaten Belu di provinsi Nusa Tenggara Timur. Atambua adalah kota terbesar kedua di Pulau Timor dalam hal ekonomi, jumlah penduduk, pemerintahan dan sebagainya. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun dan Dawan L. Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang dari Ambon, dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua tetap rukun menjalani kehidupan sosial mereka.

Belu dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman, melandasi cita-cita masyarakat Belu untuk membangun Rai Belu dengan rasa kebersamaan dan rasa persaudaraan tanpa dibatasi sekat-sekat keanekaragaman yang ada, baik suku, agama maupun yang lainnya. Dengan persatuan dan persaudaraan, cita-cita untuk mewujudkan Belu Sejahtera akan tercapai.

Tepat jam 10.00 WIT kami bersama rombongan mendarat di Bandara A.A Bere Tallo Atambua, kami berenam mendapat tugas dari BP2DK ( Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan) yang bekerja sama dengan BP3TI KOMINFO dan PSP3-LPPM IPB dalam rangka assesmen Desa Broadband Terpadu (DBT)  2017 di Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka.

Bandar Udara A. A Bere Tallo Atambua

setelah menginjakan kaki di bumi Atambua kami langsung dijemput oleh tim jasa mobil rental yang sebelumnya sudah kami hubungi saat kami di Jakarta, kami dan rombonganpun mulai bergerak menuju kota Belu dan mencari tempat untuk istirahat, 30menit kemudian kami mendapatkan tempat untuk beristirahat , karena agenda pertama kami sampai di Kabupaten Belu adalah bersilaturahmi dan memperkenalkan diri dengan jajaran Pemerintah  Daerah Kabupaten Belu (DISKOMINFO) sebelum kami menuju Desa-desa yang akan kami kunjungi,

Setelah silaturahmi dengan Dinas Kominfo Kabupaten Belu kami dan rombonganpun bergegas langsung untuk menuju Kabupaten Malaka,untuk Assesmen Desa Broadband Terpadu 2017 lima Desa berada di Kabupaten Belu dan satu Desa  di Kabupaten Malaka,  dalam perjalanan menuju Kabupaten Malaka kami banyak melihat potensi yang ada diantaranya, Jambu Mete,Kemiri, jagung selain itu juga kami melihat babi yang berkeliaran dijalanan,  namun setelah diketahui ternyata babi itu milik masyarakat tapi belum memiliki kandang.

Dari Kabupaten Belu menuju Kabupaten Malaka melalui jalan Raya Haliluik-Betun banyak jalanan yang kondisinya rusak, mengingat kondisi jalan banyak yang berlubang atau dikarenakan adanya  pergesaran  tanah dan akibat gempa, jadi jalanan tidak mulus, selama dalam perjalan kami juga menikmati keindahan alamnya. maka perjalanan Belu-Malaka (58,4 km) kami tempuh dengan waktu 3 jam.

Setelah sampai di Kabupaten Malaka kami langsung menemui Kepala Diskominfo  Kabupaten Malaka   disambut oleh jajarannya dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ke Kabupaten  Malaka.

Bersama Kadiskominfo Kabupaten Malaka

Kantor Diskominfo Kabupaten Malaka

Kabupaten Malaka adalah salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang ber ibu kota Betun, Kabupaten  Malaka merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Belu, yang disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 14 Desember 2012 di gedung DPR RI tentang Rancangan UU Daerah Otonomi Baru (DOB). Luas wilayah  1.160,63 Km2 dengan jumlah penduduk 186.622 jiwa , dan dibagi menjadi  12 Kecamatan , Desa Alas yang secara administratif masuk  Kecamatan Kobalima Timur , untuk menuju Desa Alas hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit,  di Kecamatan Kobalima Timur terdapat satu Batalyon Pasukan Pengamanan Perbatasan yaitu Batalyon 742, yang mana personilnya bertugas selama 9 bulan sekali secara bergiliran.

Pada mulanya desa alas merupakan Kerajaan mulai dengan luas dari Ailala (Alas Utara) sampai dengan batas wilayah Motamassin bagian barat Motta Babulu, pada waktu itu sekitar tahun 1800-an dipimpin oleh seorang raja yang bernama Bei Lia (Mauk Baban/kolobor nain dengan masa kepemimpinannya selama kurang lebih 25 tahun, kemudian system pergantiannya ditunjuk langsung oleh Raja pertama sebagai penguasa saat itu, tanggal 28 Juli 1917 dipimpin oleh Raja yang bernama Wihelmus Leki keponakan dari (Aloysius Mauk Banani) dengan masa kepemimpinannya sekitar 30 tahun, dan beliau meninggal dunia pada tahun 1962 (Raja ke dua),sekitar tahun 1940-an digantikan oleh anaknya sebagai Raja yang ke tiga dengan Nama Ignasius Berek Leki dari tahun 1945 dengan system pemerintahan dari Kerajaan ke Koordinator , dan pada tahun 1946 menjabat sebagai kepala desa dengan gaya baru sampai dengan tahun 1974, kemudian pada tahun tersebut kepemimpinannya digantikan oleh  Paulus Y Mali sampai dengan tahun 1979 (dari suku lewalu). Pada tahun 1984 dijabat oleh  Mikhael Loy dari suku koli bein, dan pada tahun 1984 dijabat oleh Gabriel Y Manek dengan jumlah dusun sebanyak dua belas dusun, Dalam perjalanan kepemimpinan tersebut Desa Alas dimekarkan menjadi tiga Desa ,wilayah Desa Alas Utara dan Desa Alas Selatan sebagai desa persiapan, dan setelah dilakukan pemekaran desa Desa Alas menjadi enam dusun.

Dan pada tanggal 14 Februari 2017 berdasarkan hasil pemilihan Kepala Desa maka dengan resmi Kepala Desa Alas adalah Cyprianus Nahak Bauk dengan masa bakti dari tahun 2017-2023

Desa Alas termasuk salah satu Desa di Kecamatan Kobalima Timur Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur, di sebelah Timur yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang luas wilayahnya 2.360 Ha, dengan jumlah penduduk 1589 Jiwa terdiri atas 758 Laki-laki dan 831 Perempuan,  7 Dusun, 7 Rw dan 13 RT. Mata Pencaharian penduduk Desa Alas pada umumnya bertani dan berladang,  pekerja pabrik, buruh bangunan dan pekerja lainnya,adapun guru, PNS atau  karyawan hanyalah beberapa orang saja dan itupun pendatang, sementara berternak hanyalah merupakan mata pencaharian sampingan bagi sebagian warga.

Saat ini banyak ragam jenis inovasi teknologi sumberdaya yang ada di Desa Alas, Desa Alas adalah salah satu desa yang mendapat hibah atau  bantuan vsat , vsat adalah stasiun penerima sinyal dari satelit dengan antenna penerima berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter , fungsi utama dari vsat adalah untuk menerima dan mengirim data via satelit.Hasil perkebunan yang paling dominan yaitu kemiri, kelapa dan jagung adapun peternakan yang biasa dipelihara di masyarakat yaitu Babi, kambing ayam dan sapi.

pantai pasir putih Atafufu Atambua

Jembatan Mota Ain perbatasan Indonesia-Timor Leste

TimorLeste