Bandara Jalauddin Gorontalo

Provinsi Gorontalo terletak pada Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) di Pulau Sulawesi, tepatnya di bagian barat dari Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini 12.435,00 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.133.237 jiwa , dengan tingkat kepadatan penduduk 88 jiwa/km².

Provinsi Gorontalo dihuni oleh ragam Etnis yang berbentuk Pohala’a (Keluarga), di antaranya Pohala’a Gorontalo (Etnis Hulontalo), Pohala’a Suwawa (Etnis Suwawa/Tuwawa), Pohala’a Limboto (Etnis Limutu), Pohala’a Bolango (Etnis Bulango/Bolango) dan Pohala’a Atinggola (Etnis Atinggola) yang seluruhnya dikategorikan kedalam suku Gorontalo atau Suku Hulontalo. Ditengarai, penyebaran Diaspora Orang Gorontalo telah mencapai 5 kali lipat dari total penduduknya sekarang yang tersebar di seluruh dunia. Kota Gorontalo sering disebut juga Kota Hulontalo  yang terkenal pula dengan julukan “Kota Serambi Madinah”.”, “Bumi Para Sastrawan” dan “Bumi Maleo”

Perjalanan dari ibu kota provinsi Gorontalo menuju Desa Makarti Jaya kecamatan Taluditi Kabupaten Pohuwato kurang lebih sekitar 200km dan ditempuh dengan waktu 4 jam menggunakan mobil,  dan Assesmen di Desa Makarti didampingi oleh anggota Relawan TIK Provinsi Gorontalo, jalan menuju Desa Makarti Jaya cukup mulus, dan sepanjang perjalanan banyak melihat potensi yang ada di

Desa Makarti Jaya adalah Desa Eks Transmigrasi yang terbentuk pada Tahun 2002. Luas Desa sekitar 9,07 Km2. Desa Makarti Jaya masuk dalam wilayah Kecamatan Taluditi dimana sebelah Utara berbatasan dengan Hutan milik Negara, Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pancakarsa II, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kalimas dan UPT Marisa VI, Sebelah Barat berbatasan dengan Hutan milik Negara.

Topografi Desa Makarti Jaya sebagian besar adalah Dataran dan 30% adalah Pegunungan. UPT Marisa V terbagi menjadi 4 Dusun yakni Dusun I (Jayakarsa) yang saat itu di huni oleh masyarakat Transmigrasi dari Desa Pancakarsa II pada Tahun 1994 berjumlah 63 KK, Dusun II (Laonggo) di huni oleh masyarakat dari Sangihe Talaud pada tahun 1994 yang saat itu berjumlah 40 KK, sedangkan Dusun III (Makmur Jaya) dan Dusun IV (Rejo Mulyo) adalah mayarakat pindahan dari Desa Malango pada Tahun 1995 yang saat itu berjumlah 101 KK. Sebagian besar Penduduk memeluk agama Islam dengan jumlah tempat ibadah yaitu 1 buah Masjid, 4 buah Musholla dan 4 buah Gereja serta jumlah Suku sekitar 6 yakni Suku Jawa, Sangihe Talaud, Madura, Bali, Lombok dan Suku Gorontalo.

Mata Pencaharian utama Masyarakatnya adalah Petani, yang mana petani tersebut di dominasi oleh petani Coklat dan Jagung. Luas Tanaman Coklat sampai saat ini sekitar kurang lebih 210 Ha dan Tanaman Jagung 50 Ha dengan jumlah Kelompok Tani yakni 15 Kelompok. Mata pencaharian lain yang di geluti oleh masyarakat adalah Pedagang (kios), dan meubel.

Potensi sumber daya alam yang cukup baik menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat, dan sampai saat ini keharmonisan antar warga pun terjalin dengan baik, pemeluk agama dan antar Suku, serta hubungan antara Pemerintah Desa dan masyarakat berjalan sangat baik

Sebelum menjadi Desa Definif, pada tahun 1994-2002 Desa ini masih berbentuk Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT Marisa V) dengan penempatan penduduk sejumlah 204 KK. Untuk lebih meningkatkan kesejahteraan penduduk dan peningkatan sarana dan prasarana pada tahun 2002 beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama mengusulkan kepada Departemen Transmigrasi agar kiranya Status  UPT Marisa V diubah menjadi Desa Definitif, maka sejak tahun 2002 Oleh Departemen Transmigrasi Upt Marisa V secara resmi telah diserahkan ke Pemerintah Daerah dan UPT Marisa V berubah menjadi Desa Definitif yang diberi nama Makarti Jaya yang diambil dari dua kata  Makarti = berkarya dan  Jaya  = Kejayaan, jadi Makarti Jaya berarti berkarya untuk mencapai Kejayaan.

Kakao potensi Desa Makarti Jaya

Bersama Kepala Desa Makarti Jaya, anggota Relawan TIK Gorontalo dan Ketua BPD Makarti Jaya